Arti secara etimologi
1. Filsafat sebagai suatu sikap
Adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, tolerandan selalu bersedia meninjau suatu problem dari semua sudut pandangan.
2. Filsafat sebagai suatu metode
Adalah berfikir secara reflektif(mendalam), penyelidikan menggunakan alasan, berfikir secara hati-hati dan teliti.
3. Filsafat sebagai kelompok persoalan
Banayak persoalan yang dihadapi manusia dan para filsuf berusaha memikirkan dan menjawabnya.
4. Filsafat sebagai sekelompok teori atau system pemikiran
Sejarah filsafat ditandai dengan munculnya teori-teori atau system-sistem pemikiran yang melekat pada nama-nama filsuf besar.
5. Filsafat sebagai analisa logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah
Tujuan
filsafat yaitu menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara
menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu
pengetahuan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berpendirian
bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf, yaitu tempat menyemai
dan mengembangkan ide-ide.
6. Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yanag menyeluruh
Filsafat
merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada
secara mendalam mempergunakan akal sampai pada hakekatnya.
Filsafat mempunyai beberapa peran yaitu :
-
Pendobrak
Nenek
moyang zaman dahulu yang percaya akan mitos dan mite, yang syarat akan
takhayul itu merupakan bagian yang hakiki dari warisan tradisi yang
tidak bisa diganggu gugat. Oleh sebab itu, orang yunani, yang dikatakan
memiliki ‘suatu rasionalitas yang luar biasa’, juga pernah percaya
kepada dewa dan dewi mereka. keadan tersebut berlangsung cukup lama. Dan
dengan kehadiran filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan tembok-
tembok tradisi yang sacral dan selama itu tak boleh diganggu gugat. .
Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan
sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan
selaku pendobrak yang mencengangkan.
2. Pembebas
Sesungguhnya
filsafat bukan sekedar pendobrak saja tetapi juga sebagai pembebas,
yang membebaskan mausia dari tradisi dan mitos zaman dahulu. Filsafat
membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak teratur dan tidak
jernih. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berfikir tidak
kritis yang membuat manusia mudah menerima kebenaran-kebenaran semu yang
menyesatkan.
3. Pembimbing
Filsafat
membebaskan manusia dari cara berfikir yang mistis dan mitis dengan
membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Filsaafat membebaskan
manusia dari cara berfikir yang pcik dan dangkal dengan membimbing
manusia untuk berfikir secara luas dan lebih mendalam, yakni berfikir
secara universalsambil berupaya mencapai radix(mendalam) dan menemukan
esensi suatau permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara
berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia
untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat membebaskan manusia
dari cara berpikir yang tak utuh dan begitu fragmentaris dengan
membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren.
C. Obyek Filsafat
ada dua obyek dalam filsafat yaitu:
1. obyek materil yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian
atau pembentukan pengetahuan itu. boleh juga obyek material itu berupa
obyek yang diselidiki, dipandang, atau disoroti oleh suatu disiplin
ilmu. obyek materil filsafat mencakup segala sesuatu yang ada.
2. obyek formal yaitu sudut pandangan yang ditunjukkan pada bahan dari
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu,u sudut dari mana objek
materil itu atau sudut dari mana objek materil itu disorot.Obyek formal
suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat
yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain.Obyek formal filsafat
yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum, sehingga dapat
mencapai hakekat dari pada obyek materialnya
D. Berfikir secara kefilsafatan
Ciri-ciri berfikir secara kefilsafatan adalah :
1. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal
2. Berfikir secara kefilsafat dicirikan secara universal (umum).
3. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual
4. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten
5. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik
6. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif
7. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas
8. Berfikir secara kefilsafatan dirikan dengan pemikiran yang bertanggung jawab
E. Cabang-cabang Filsafat
Berdasarkan
tiga jenis persoalan filsafat yang utama yaitu persoalan tentang
keberadaan, persoalan tentang pengetahuan, persoalan tentang
nilai-nilai, maka cabang filsafat adalah :
1.
Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence). Persoalan
keberadaan atau eksistensi bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu
metafisika.
2.
Persoalan pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Pengetahuan
ditinjau dari segi isinya bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu
epistemologi. Sedangkan kebenaran ditinjau dari segi bentuknya
bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu logika.
3.
Persoalan nilai-nilai (values). Nilai-nilai dibedakan menjadi dua,
nilai-nilai kebaikan tingkah laku dan nilai-nlai keindahan. Nilai-nilai
kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu etika.
Nilai-nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu
estetika.
Metafisika: sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik.
Epistimologi: cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan validitas pengetahuan.
Logika: ilmu, kecakapan atau alat untuk berfikir secara lurus.
Etika: cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku dalam hubungannya baik atau buruk.
Estetika: cabang-cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan.
LANDASAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
Ontology
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Landasan
ontology mempertanyakan tentang obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana
wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek
tadi dengan daya tangkap manusia(sepertiberfikir, merasa, mengindera)
yang membuahkan pengetahuan? (Jujun S. Suriasumantri, 1985, hal.34)
Episemologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber,
metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Landasan
epistemology berkaitan pertanyaan “Bagaimana”, yaitu aspek-aspek
metodologis ilmu dan sarana berfikir, seperti bahas, logika, matematika,
statistika.
Aksiologi
adalah cabang filsafat yang mempelajari tantang nilai secara umum.
Landasan aksiologi berkaitan dengan pertanyaan “mengapa” dan dampak ilmu
bagi umat manusia:
-
Apa manfaat bagi umat manusia,
-
Untuk apa ilmu digunakan
-
Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak,
-
Etika
Dari ketiga ilmu itu akan melahirkan sifat kebijakan ilmuwan dalam menerapkan ilmunya di masyarakat.
EPISTEMOLOGI
(FILSAFAT PENGETAHUAN)
Pengertian Epistemologi
Istilah
“epistemology” dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere yang maksudnya
untuk membedakan antara dua cabang filsafat yaitu Epistemologi dan
ontology(metafisika).
Epistemologi
berasal dari kata yunani, ‘Episteme’ dan ‘logos’. Episteme biasa
diartikan sebagai ‘pengatahuan’ atau ‘kebenaran’, dan ‘logos’ diartikan
‘pikiran’, ‘kata’, atau ‘teori’. Epistemologi secara etimologi dapat
diartikan sebagai ‘teori pengetahuan yang benar’ dan lazimnya hanya
disebut ‘teori pengetahuan’
Istilah-istilah
lain yang setara maksudnya dengan ‘epistemologi’ dalam pelbagai
kepustakaan filsafat kadang-kadang disebut juga logika material,
criteriology, kritika pengetahuan, gnosiology dan dalam bahasa Indonesia
lazim dipergunakan istilah ‘Filsafat Pengetahuan’
Epistemologi
adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas,
sifat, metode dan kesahihan pengetahuan
Terjadinya Pengetahuan
Untuk
mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya
“An Introduction to Philosophical Analysis” mengemukakan ada enam hal,
yaitu:
-
Pengalaman indera(sense experience). Pengindraan adalah satu-satunya alat untuk menyerap segala sesuatu obyek yang ada di luar diri manusia. Pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap obyek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra. Kekhilafan akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat itu.
-
Reason(nalar) adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendpat pengetahuan baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah tentang asas pemikiran:
-
Principium Identitas, adalah sesuatu itu mesti sama dengan dirinya sendiri (A = A) Azas ini biasa juga disebut sebagai azas kesamaan.
-
Principium Contradictionis, maksudnya bila terdapat dua pendapat yang bertentangan, maka tidak mungkin kedua-duanya benar dalam waktu yang bersamaan atau dengan kata lain pada subyek yang sama tidak mungkin terdapat dua predikat yang bertentangan pada satu waktu. Azas ini biasa disebut sebagai azas pertentangan.
-
Principium Tertii Exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawanan tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Kebenaran hanya terdapat satu diantara kedua itu, tidak perlu ada pendapat yang ketiga. Azas ini biasa disebut sebagai azas tidak adanya kemungkinan ketiga.
-
Otoritas (authority) adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah pengetahuan yang terjadi melalui wibawa seseorang sehingga orang lain mempunyai pengetahuan
-
Intuisiadalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan atau timulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi tak dapat dibutikan seketika atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu.
-
Wahyu (revelation) adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabiNya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu,karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.
-
Keyakinan (faith). Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas, karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang diperguanakannya adalah kepercayaan.
Teori Kebenaran
Teori
kebenaran saling berhubungan (Coherence theory of truth). Suatu
proposisi itu benar bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide
dari proposisi yang telah ada atau benar, atau juga apabila proposisi
itu mempunyai hubungan dengan proposisi yang terdahulu yang benar.
Pembuktian teori kebenaran koherensi dapat melalui fakta sejarah apabila
merupakan proposisi sejarah atau memakai logika apabila merupakan
pernyataan-pernyataan yang bersifat logik.
-
Teori kebenaran saling berkesesuaian (Correspondence theory of truth). Teori ini berpandangan bahwa suatu proposisi itu bernilai benar apabila proposisi itu saling berkesesuaian dengan dunia kenyataan
-
Teori kebenaran inherensi (Inhaerent theory of truth).Kadang-kadang teori ini disebut juga sebagai teori pragmatis. Pandangannya adalah suatu proposisi itu bernilai benar apabila mempunyai konsekwensi-konsekwensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat.
-
Teori Kebenaran Berdasarkan Arti (Semantic theory of truth) Yaitu bahwa proposisi itu ditinjau dari segi artinya atau maknanya. Apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai referen yang jelas
-
Teori Kebenaran Sintaksis. suatu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku.
-
Teori Kebenaran Non-Deskripsi; pengetahuan akan memiliki niai benar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
-
Teori Kebenaran Logik-yang-berlebihan (Logical-Superfluity of Truth). Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalahbahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang sama yang masing-masing saling melingkupinya.
Jenis-jenis Pengetahuan
Pengetahuan menurut Soejono Soemargono(1983) dapat dibagi atas:
-
Pengetahuan non ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk dalam kategori metode-metode ilmiah.
-
Pengetahuan ilmiah adalah segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang sudah lebih sempurna karena pengetahuan ini telah mempunyai dan memenuhi syarat-syarat tertentu dan dengan cara berfikir yang khas yaitu dengan metodologi ilmiah.
Menurut Plato pengetahuan dibagi berdasarkan tingkatan-tingkatan sesuai dengan karakteristik obyeknya. Pembagiannya yaitu:
-
Pengetahuan Eikasia(Khayalan) adalah pengetahuan yang obyeknya berupa bayangan atau gambaran. . Pengetahuan ini isinya adalah hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan atau kesukaan serta kenikmatan manusia yang berpengatahuan.
-
Pengetahuan Pistis(substansial) adalah pengetahuan mengenai hal-hal yang tampak dalam dunia kenyataan atau hal-hal yang dapat diinderai secara langsung. Obyek pengetahuan pistis biasa disebut zooya oleh karena demikian itu isi pengetahuan semacam ini mendekati suatu keyakinan.
-
Pengetahuan Dianoya(matematik) adalah tingkat yang ada di dalamnya sesuatu yang tidak hanya terletak pada fakta atau obyek yang tampak tetapi juga terletak pada bagaimana cara berpikirnya. bentuk pengetahuan tingkat dianoya ini adalah pengetahuan yang banyak berhubungan dengan masalah matematik atau kuantitas entah lus, isi, jumlah, berat yang semata-mata merupakan suatu kesimpulan dari hipotesa yang diolah oleh akal pikir karenanya pengetahuan ini disebut juga pengetahuan pikir
-
Pengetahuan Noesis(filsafat). Pengetahuan yang obyekny adalah arche ialah prinsip-prinsip utama yang mencakup epistemologik dan metafisik. Prinsip utama ini biasa disebut “IDE”. Plato menerangkan tentang pengetahuan ini adalah hampir sama dengan pengetahuan pikir tetapi tidak lagi menggunakan pertolongan gambar, diagram melainkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh abstrak.
Aristoteles
tidak membagi pengetahuan menurut tingkatannya melainkan menurut
jenisnya sesuai dengan fungsi dari pengetahuan itu. Pengetahuan yang
umumnya merupakan kumpulan dinamakan Rational Knowledge yang dipisahkan
dalam tiga jenis yaitu:
-
Pengetahuan produksi (seni)
-
Pengetahuan praktis (etika, ekonomi, politik)
-
Pengetahuan teoritik (fisika, matematika dan metafisika/filsafat pertama)

0 komentar:
Posting Komentar